HARIANEXPRESS, SIDOARJO – Ketua DPRD Sidoarjo Abdilah Nasih mendesak pemerintah tangani cepat seluruh korban dugaan keracunan santri. Kasus ini diduga berkaitan program Makan Bergizi Gratis. Selasa, (1/9/2026).
Abdilah Nasih meminta seluruh rumah sakit dan fasilitas kesehatan milik pemerintah berada dalam kondisi siaga penuh. Ini untuk memastikan setiap korban memperoleh pelayanan medis yang memadai tanpa terkendala administrasi maupun pembiayaan.
“Tidak boleh ada anak satu pun yang tidak tertangani. Seluruh rumah sakit, seluruh fasilitas milik pemerintah harus disiapkan semua,” tegas Abdilah Nasih (Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo) di RSUD Sidoarjo, Selasa (1/9/2026).
Menurut Abdilah, keselamatan anak harus menjadi prioritas utama. Ia menekankan bahwa pemerintah harus menanggung semua biaya perawatan korban.
“Biaya tidak boleh adil dalam arti patungan. Artinya, semuanya ditanggung oleh pemerintah,” ujar Abdilah Nasih.
Selain pelayanan medis, Abdilah juga meminta pemerintah menyediakan jalur pengaduan yang jelas bagi keluarga korban. Setiap laporan dan keluhan harus diterima, diverifikasi, dan ditindaklanjuti secara cepat.
“Kalau memang butuh, nanti ajukan, tentu harus ada. Tidak bisa tidak,” ujar Abdilah Nasih.
DPRD Sidoarjo juga mendorong pendataan menyeluruh terhadap anak-anak yang berpotensi mengalami gejala serupa. Pola penanganan “jemput bola” didorong agar petugas kesehatan, puskesmas, hingga UKS di sekolah ikut memantau kondisi anak.
“Jangan menunggu laporan dari sekolahan. Jemput bola ke bawah, kemudian deteksi mana-mana yang merasa mual, lalu dilaporkan kepada pihak sekolah,” tegas Abdilah Nasih.
Abdilah menambahkan, seluruh proses penanganan harus dilakukan secara cepat, transparan, dan terkoordinasi. Penyebab pasti keluhan kesehatan para santri masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan investigasi dari pihak berwenang.
Deteksi dini, pelayanan kesehatan, pendataan korban, serta tindak lanjut terhadap penyebab kejadian harus dilakukan serius agar tidak ada korban yang terabaikan. Pemeriksaan penyebab pasti keracunan massal ini masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan serta penyelidikan resmi.


