Selasa, 08 September 2026
Hot

Festival Cak Durasim 2026: Upaya Gen Z Hidupkan Ludruk

Festival Cak Durasim 2026 menjadi wadah bagi Generasi Z Mojokerto untuk menjaga kelestarian ludruk melalui berbagai pertunjukan seni.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS, SURABAYA – Festival Cak Durasim 2026 yang diselenggarakan di Gedung Cak Durasim Surabaya, Sabtu (5/9/2026), menjadi bukti upaya generasi muda dalam melestarikan kesenian ludruk.

Acara ini diawali dengan pertunjukan Remo Bolet oleh anak-anak ZR Dance, menampilkan anak berusia enam tahun yang mencoba memukul gamelan. Siswa SD dan SMP juga tampil dalam tari Remo kolosal, menandakan dimulainya regenerasi ludruk sejak usia dini.

Festival ini tidak hanya fokus pada pelestarian tradisi, tetapi juga bagaimana memperkenalkan ludruk kepada generasi yang tumbuh di era digital. Heri Lento Prasetyo, penggagas festival, menekankan pentingnya pengalaman langsung bagi anak-anak dalam mengenal ludruk.

Kelompok Ludruk Karya Persada Mojokerto menampilkan lakon “Joko Sambang – Pendekar Gunung Gangsir” arahan Kukun Tri Yoga. Lakon tersebut mengangkat tema perjuangan rakyat di bawah penjajahan Belanda, sekaligus memberi ruang bagi Gen Z untuk terlibat.

Article ad in the middle of article

Kukun Tri Yoga menjelaskan pendekatan baru dalam pementasan ludruk ini. “Pola penggarapannya tidak seperti ludruk pada umumnya yang berdasar konsep alur cerita namun dengan naskah. Kemudian pemainnya dicetak dalam latihan intensif selama satu bulan,” tuturnya. Meskipun demikian, elemen tradisional seperti bedayan, remo, kidungan, dan gending jula-juli tetap dipertahankan.

Adaptasi tradisi ini menunjukkan bahwa ludruk dapat bergerak dan beradaptasi untuk berbicara kepada generasi yang berbeda. Pengalaman sederhana menyentuh gamelan, menari remo, dan berada di atas panggung diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap kesenian rakyat ini, sehingga napas ludruk dapat terus berlanjut.

Article ad after last paragraph