Findy Alfiansyah Penulis
HARIAN EXPRESS, JATIM – SPPG Tambakrejo 7 Jombang menghentikan sementara program MBG di sembilan sekolah dan dua posyandu akibat dana operasional dari BGN belum cair, Selasa (09/06/2026).
Penghentian operasional dapur SPPG Tambakrejo 7 telah berlangsung selama dua hari terakhir, berimbas pada 1.725 penerima manfaat. Salah satu sekolah yang terdampak adalah SMPN 4 Jombang, di mana 871 siswanya tidak lagi menerima MBG sejak Senin (8/6).
Penanggungjawab MBG sekaligus guru SMPN 4 Jombang, Ita Rahayu, menjelaskan bahwa penghentian ini tidak berdampak signifikan. Siswa kembali pada kebiasaan lama membawa bekal dari rumah untuk makan siang.
“Dibandingkan MBG, anak-anak lebih suka masakan rumah, dalam arti lebih sehat masakan orang tua sendiri. Harapan kami perlu evaluasi MBG itu untuk siswa-siswa yang kurang mampu saja. Karena ini masalah selera, untuk anak-anak yang mampu kurang tertarik dengan menu MBG,” ujar Ita Rahayu.
“Karena dari pusat (Badan Gizi Nasional) belum ada pencairan dana operasional. Kami masih menunggu untuk pencairan agar kami bisa operasional kembali,” ungkap Ahmad Rifqi Rosadi (Kepala SPPG Tambakrejo 7).
Ahmad Rifqi Rosadi membenarkan penghentian sementara operasional dapurnya, sehingga pasokan MBG untuk 1.725 penerima manfaat di 9 sekolah dan 2 posyandu dihentikan. Setiap harinya, SPPG Tambakrejo 7 membutuhkan dana sebesar Rp 25,8 juta untuk melayani penerima manfaat.
Dana tersebut mencakup Rp 15 juta untuk bahan baku, Rp 4,8 juta untuk honor 43 relawan, dan Rp 6 juta untuk insentif. Dana operasional tersebut belum cair dari pusat.


