HARIANEXPRESS, JAKARTA – PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) membukukan lonjakan laba bersih sebesar 175,34 persen mencapai Rp1,19 triliun pada semester pertama 2026 akibat maraknya permintaan lahan data center. (09/09/2026)
Pendapatan usaha perseroan melesat hingga 194,03 persen menjadi Rp1,80 triliun dari periode sebelumnya sebesar Rp613,35 milar. Lompatan ini ikut mendongkrak laba kotor DMAS menjadi Rp1,27 triliun dengan peningkatan mencapai 197,22 persen.
Segmen lahan industri di Greenland International Industrial Center (GIIC) menyumbang 96,72 persen pendapatan dengan nilai Rp1,74 triliun. Penjualan ini didominasi empat penyedia data center, termasuk PT Digital Gayana Ekagrata dan PT Princeton Digital Group.
Meski kinerja meroket, DMAS kini menghadapi penyusutan lahan industri dari 119 hektare menjadi hanya 60 hektare dalam setahun. Hal tersebut diakibatkan tingginya aksi borong lahan oleh berbagai operator pusat data kelas dunia.
“Setiap tahun kita merencanakan untuk menambah land bank yang cukup signifikan, hanya saja memang tidak mudah—kita mengakui hal itu,” ujar Tondy Suwanto (Direktur DMAS) pada acara Public Expose Live 2026 di Jakarta, Senin (07/09/2026). “Kalau untuk kawasan industri, setidaknya, minimal itu harusnya di atas 500 hektare,” tambahnya.
Tondy menjelaskan bahwa ekspansi di luar kawasan Delta Mas membutuhkan biaya infrastruktur yang jauh lebih besar. Oleh karena itu, perseroan berupaya memfokuskan pencarian lahan baru di sekitar area kawasan industri yang sudah ada.
“Tetapi tetap saja, kita akan berusaha supaya ada tambahan land bank. Fokus utama saat ini adalah memang di sekitar kawasan industri sekarang atau di sekitar Delta Mas,” ujar Tondy Suwanto (Direktur DMAS) di Jakarta, Senin (07/09/2026). “Kalau misalkan kita menambah land bank di sekitar kawasan Delta Mas, itu lebih memudahkan untuk menyambung infrastruktur yang ada … lebih mudah dan lebih murah sebenarnya,” tambahnya.
Saat ini DMAS memiliki kas sebesar Rp2,1 triliun dan berstatus bebas dari pinjaman bank. Struktur keuangan tersebut dinilai manajemen sangat memadai guna menopang seluruh kebutuhan belanja modal di masa mendatang.
“Kalau dari sisi fundamental, kalau kita lihat, kita loan-free [tidak memiliki pinjaman], jadi kami lihat ini cukup untuk capex,” kata Tondy Suwanto (Direktur DMAS) di Jakarta, Senin (07/09/2026). “Kabar baiknya adalah, bahwa dengan recurring income yang sudah tercapai saat ini, sebenarnya seluruh opex sudah bisa kita cover,” jelasnya.
Hingga pertengahan 2026, perseroan membukukan prapenjualan sebesar Rp1,15 triliun atau sekitar 55 persen dari target tahunan. Mayoritas permintaan lahan tersebut disumbang sektor data center tier 4 yang kini berjumlah 16 penyewa.
“Yang keseluruhannya merupakan data center tier 4,” ungkap Esther Meilia Nathaniel (Head of Investor Relations and Corporate Sustainability DMAS) sebagaimana dikutip dari IDNFinancials pada Senin (07/09/2026).
Selain sektor industri, pendapatan DMAS disokong oleh segmen komersial Rp15,89 miliar dan residensial Rp13,88 miliar. Sementara itu, lini usaha perhotelan masih mencatatkan rugi berjalan sebesar Rp610,76 juta.


