HARIANEXPRESS, TEHERAN – Iran mengancam membalas serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap aset minyak dan gas mereka. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan aset energi AS di Teluk rentan serangan balasan. Selasa, (08/09/2026)
Pernyataan Ghalibaf muncul saat ketegangan antara AS dan Iran kembali memuncak, mendorong harga minyak mendekati level tertinggi dalam enam pekan terakhir. Konflik yang berlangsung selama enam bulan terakhir ini belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan diplomatik untuk mengakhiri perselisihan.
Sebelumnya, pasukan AS menyerang setidaknya tiga kapal tanker Iran akhir pekan kemarin, dua di antaranya berlabuh di Pulau Kharg. Iran kemudian membalas dengan menyerang kapal-kapal tanker di Selat Hormuz dan kapal-kapal yang terkait dengan militer AS di kawasan tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Sabtu (5/9) merilis rekaman video penargetan kapal-kapal Iran. Video tersebut disertai peringatan agar Teheran tidak menyerang kapal-kapal AS.
“Kami tidak akan ragu untuk membela pasukan Amerika dan, jika perlu, menghancurkan armada minyak Iran yang jumlahnya terbatas dan rentan,” tegas Laksamana Brad Cooper (Komandan CENTCOM) pada Sabtu (5/9).
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga memperingatkan Iran melalui media sosial X.
“Sederhana saja: Jika Iran menembaki kapal-kapal AS, kita akan menghancurkan (dan menenggelamkan) kapal-kapal tanker minyak mereka. Yang perlu mereka lakukan hanyalah tidak menembaki Angkatan Laut AS,” tegas Pete Hegseth (Menteri Pertahanan AS) melalui media sosial X. “Armada kapal tanker minyak Iran tidak memiliki pertahanan — Iran tidak memiliki angkatan laut maupun angkatan udara. Pesawat, kapal, dan kapal selam kita dapat menghantam semuanya,” tambahnya.
Peringatan dari Hegseth tersebut tampaknya direspons langsung oleh Ghalibaf, yang mempertegas ancaman Iran.
“Serang aset-aset kami, dan Anda akan diserang,” tegas Mohammad Bagher Ghalibaf (Ketua parlemen Iran) pada Selasa (8/9/2026). “Kami sudah membuktikannya. Tanyakan saja pada pangkalan-pangkalan yang kini sudah tidak bisa lagi beroperasi,” imbuh Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ghalibaf juga membalas pernyataan Hegseth dengan nada yang sama.
“Sederhana saja: Rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, mudah diakses, dan rentan. Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika yang beroperasi di perairan ini dan fasilitas-fasilitasnya juga menghadapi kerentanan yang sama,” sebut Mohammad Bagher Ghalibaf (Ketua parlemen Iran).
Iran telah memperketat pembatasan pelayaran di Selat Hormuz, jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global, sejak perang dimulai pada 28 Februari. Konflik ini terus meningkatkan ketegangan dan mengganggu arus energi normal di kawasan strategis tersebut.


