HARIANEXPRESS, JAKARTA – Sejumlah emiten batu bara nasional melakukan diversifikasi bisnis ke sektor non-batu bara guna mencari sumber pertumbuhan baru dan mengurangi ketergantungan energi fosil. (16/09/2026)
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memimpin pergerakan ini dengan merambah sektor tambang emas, tembaga, hingga nikel di luar negeri. Perusahaan tersebut baru saja menuntaskan akuisisi penuh atas saham Loyal Metals Ltd asal Australia pada 4 September 2026.
Langkah BUMI merupakan bagian dari empat transaksi akuisisi dalam dua tahun terakhir, termasuk rencana pembelian 45 persen saham PT Laman Mining Indonesia. Seluruh upaya ekspansi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi jangka panjang bagi profitabilitas perseroan.
Sementara itu, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melebarkan sayap ke komoditas nikel untuk menangkap peluang elektrifikasi global. ITMG juga membuka peluang menambah porsi kepemilikan saham mereka di PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) yang kini sebesar 9,62 persen.
“Fokus kami pada tahun-tahun mendatang tidak hanya pada nikel, tetapi kami juga terbuka terhadap peluang di strategic mineral lainnya yang memiliki peran penting dalam mendukung proses elektrifikasi dan memenuhi kebutuhan energi di masa mendatang,” ujar Mulianto (Direktur Utama ITMG) di Jakarta, Rabu (16/09/2026).
Di sisi lain, PT Indika Energy Tbk (INDY) memilih mempercepat pembangunan tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan demi menyokong bisnis non-batu bara. Selain emas, INDY giat membangun ekosistem kendaraan listrik terintegrasi mulai dari distribusi hingga infrastruktur pengisian daya.
“Per 30 Juni 2026, kemajuan konstruksi proyek telah mencapai 60,63% menuju target penyelesaian konstruksi,” ujar Ricky Fernando (Senior Vice President and Head of CEO Office, Corporate Communications, and Sustainability Indika Energy) kepada Bisnis, Senin (14/09/2026).
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai langkah diversifikasi ke emas dan mineral kritis dapat berfungsi sebagai pelindung nilai portofolio alami. Kendati demikian, ia mengingatkan agar keputusan ekspansi ini didukung oleh kekuatan kas internal dan efisiensi biaya.
“Kebijakan hilirisasi mendorong ke value-added processing. Emas dan mineral kritis punya demand driver beda siklus dari batu bara, ini natural hedge portofolio,” ujar Muhammad Wafi (Head of Research KISI Sekuritas) di Jakarta, Senin (14/09/2026).
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis Setyo Wibowo, menambahkan bahwa dampak positif diversifikasi baru terasa signifikan apabila unit bisnis baru menyumbang kontribusi laba secara material. Beberapa emiten yang dinilai menarik perhatian pasar antara lain ANTM, MDKA, INCO, ADRO, dan PTBA.
“Dari sisi emiten, ANTM, MDKA, INCO, ADRO, dan PTBA menarik diperhatikan, terutama dari kemampuan eksekusi dan kontribusi bisnis non-batu bara,” ujar Abdul Azis Setyo Wibowo (Analis Kiwoom Sekuritas) kepada Bisnis, Rabu (16/09/2026).








