HARIANEXPRESS – Sebanyak 100 penari muda asal Jawa Timur tampil memukau dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pertunjukan megah tersebut berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Mayoritas penari berasal dari Tulungagung, sementara sisanya datang dari berbagai daerah lain seperti Trenggalek, Kediri, Blitar, dan Malang. Mereka membawakan kolaborasi lima kesenian tradisional khas Jawa Timur.
Ratusan Penari Jawa Timur Meriahkan HUT ke-81 RI di Istana
Pertunjukan kolosal ini dikemas menjadi satu tarian berdurasi sekitar lima menit. Penampilan para penari ini sukses menarik perhatian ribuan pasang mata yang hadir.
Aksi ini merupakan bagian dari perayaan nasional terbesar, sekaligus menjadi ajang untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah. Lima tarian yang ditampilkan adalah Tari Remo, Tari Jaripah, Topeng Malang, Jaranan Senterewe, dan Tari Glipang.
Lima Tarian Kolosal Penuh Makna dari Bumi Jawa Timur
Berikut adalah lima tarian yang berhasil memukau hadirin di Istana Merdeka:
- Tari Remo
- Tari Jaripah
- Topeng Malang
- Jaranan Senterewe
- Tari Glipang
Penjelasan Rinci Lima Kesenian Tradisional
Tari Remo merupakan salah satu kesenian khas Jawa Timur yang berkembang di wilayah Jombang dan daerah sekitarnya. Tarian ini umumnya ditarikan untuk menyambut tamu agung atau sebagai pembuka dalam pertunjukan kesenian tradisional ludruk.
Tarian ini dikenal dengan gerakan kaki yang tegas serta entakan yang kuat. Tari Remo memiliki karakter yang menggambarkan keberanian, ketegasan, dan semangat.
Tari Jaripah berasal dari Banyuwangi dan diciptakan oleh koreografer Subari Sofyan. Tarian ini terinspirasi dari kisah Jaripah dalam pertunjukan Barong Kemiren yang berkembang di tengah masyarakat Osing Banyuwangi.
Jaripah menggambarkan sosok perempuan Osing yang kuat, sabar, dan tegar dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, tarian ini juga membawa pesan tentang keteguhan dan nilai spiritual.
Topeng Malang merupakan kesenian tradisional dari wilayah Malang, Jawa Timur. Pertunjukannya menggunakan topeng dengan karakter berbeda-beda dan banyak mengangkat cerita Panji.
Setiap karakter dalam Topeng Malang memiliki filosofi tersendiri yang menggambarkan sifat dan perjalanan kehidupan manusia. Cerita yang dibawakan juga mengandung pesan moral dan pelajaran mengenai hubungan antarmanusia.
Jaranan Senterewe merupakan kesenian yang berkembang kuat di Tulungagung. Tarian ini masih memiliki kaitan dengan tradisi jaranan atau kuda lumping.
Kesenian ini kemudian berkembang dengan karakter dan koreografi khas Tulungagung yang unik. Gerakannya dikenal lincah dan atraktif dengan penggunaan properti kuda kepang.
Dalam pertunjukannya, Jaranan Senterewe menggambarkan semangat, keberanian, dan kekuatan para penari.
Tari Glipang berasal dari Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur yang diciptakan oleh Seno Truno. Nama Glipang disebut berasal dari kata Arab “gholiban” yang berarti kebiasaan.
Kesenian ini berkembang menjadi tradisi masyarakat Probolinggo dan merupakan perpaduan sejumlah unsur budaya. Di antaranya termasuk gerakan pencak silat dan seni bernuansa Islam.
Tari Glipang memiliki karakter yang gagah dan penuh tenaga. Salah satu bagian tariannya menggambarkan gerakan keprajuritan serta semangat perlawanan masyarakat terhadap penjajahan Belanda.
Karena itu, Glipang juga menjadi simbol keberanian dan nasionalisme masyarakat Probolinggo.
Peran Generasi Muda dalam Mempertahankan Warisan Budaya Bangsa
Kelima kesenian tersebut kemudian dirangkai menjadi satu pertunjukan kolosal yang menawan. Para koreografer memadukan karakter masing-masing tarian dengan apik sehingga dapat tampil dalam waktu yang singkat namun berkesan.
Penampilan 100 penari muda Jawa Timur di Istana ini menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan keragaman budaya daerah. Selain menjadi hiburan dalam perayaan kemerdekaan, pertunjukan tersebut menunjukkan peran penting generasi muda dalam menjaga dan meneruskan kesenian tradisional asal Jawa Timur.


