HARIANEXPRESS, BLITAR – Pemerintah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, telah memulai uji coba sistem tanam padi Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS), Senin (10/8/2026).
Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan di daerah tersebut.
Uji coba sistem PM-AAS dilakukan melalui pembangunan demplot seluas dua hektare. Demplot tersebut tersebar di delapan kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar.
Uji Coba PM-AAS Dimulai di Blitar
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar menjadi pelaksana program uji coba ini. Program PM-AAS merupakan inisiatif dari Kementerian Pertanian yang dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pertanian.
Teknologi dan Harapan Peningkatan Produktivitas
Siswoyo Adi Prasetyo, Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar, menjelaskan teknologi yang diterapkan. Teknologi tersebut adalah tabur benih langsung dengan sistem jajar legowo.
“Teknologi yang diterapkan adalah tabur benih langsung dengan sistem jajar legowo. Untuk kebutuhan benih dan pupuk memang lebih banyak, tetapi populasi tanaman meningkat sehingga hasil juga diharapkan lebih tinggi,” ujar Siswoyo Adi Prasetyo.
Delapan kecamatan yang menjadi lokasi demplot uji coba ini meliputi Selopuro, Doko, Selorejo, Kanigoro, Sutojayan, Gandusari, Wlingi, dan Talun. Pembangunan demplot dimaksudkan agar para petani dapat melihat langsung implementasi sistem PM-AAS.
Keunggulan Sistem Pertanian Modern PM-AAS
PM-AAS berbeda dari metode konvensional yang memakai benih semai, karena menerapkan sistem tabur benih langsung (tabela) dengan pola tanam jajar legowo. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan populasi tanaman secara signifikan.
Metode konvensional umumnya menghasilkan 300 hingga 400 rumpun per hektare. Sementara itu, PM-AAS berpotensi mencapai 800 hingga 1.000 rumpun per hektare.
Dukungan dan Tantangan Implementasi
Pemerintah daerah telah mengusulkan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) seluas 203 hektare untuk pelaksanaan PM-AAS. Implementasi yang lebih luas ini direncanakan pada musim tanam Agustus hingga September 2026.
Petani yang berpartisipasi dalam program ini akan mendapatkan dukungan sarana produksi. Sementara itu, alat tanam masih dapat dibuat secara mandiri.
“Kami mengoptimalkan peran PPL untuk sosialisasi, pendampingan serta pembangunan demplot di masing-masing wilayah,” tambah Siswoyo.
Tantangan utama dalam penerapan PM-AAS bukan terletak pada kondisi lahan, asalkan ketersediaan air mencukupi, melainkan pada perubahan pola pikir dan kebiasaan petani. Pemerintah Kabupaten Blitar berharap uji coba PM-AAS ini akan meningkatkan produktivitas padi dan menjadi model pengembangan pertanian modern untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.